Monday, July 18, 2016

Analisis misteri kudeta militer turki dalam persfektif Teori Strukturalisme


          “Analisis Terhadap Misteri Kudeta Militer”
             Turki   Berdasakan Teori Strukturalisme


     A.    Latar Belakang
Strukturalisme, bebicara strukturalisme tidak lepas dari pembicaraan mengenai hubungan antara politik dan ekonomi. Kaum strukturalis menekankan pentingnya seluruh struktur hubungan yang didalamnya belangsung interaksi politik dan ekonomi. Secara definitif strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme  antar hubungannya, di satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur lainnya, di pihak yang lain hubungan antara unsur (unsur) dengan totalitasnya. Hubungan tersebut tidak semata-mata bersifat positif, seperti keselarasan, kesesuaian, dan kesepahaman, tetapi juga negatif, seperti konflik dan pertentangan. Istilah struktur sering dikacaukan dengan sistem. Definisi dan ciri-ciri sruktur sering disamakan dengan definisi dan ciri-ciri sistem. Secara etimologis struktur berasal dari kata structura (Latin), berati bentuk, bangunan, sedangkan sistem berasal dari kata systema (Latin), berarti cara. Struktur dengan demikian menunjuk pada kata benda, sedangkan sistem menunjuk pada kata kerja. Pengertian-pengertian struktur yang telah digunakan untuk menunjuk unsur-unsur yang membentuk totalitas pada dasarnya telah mengimplikasikan keterlibatan sistem. Artinya, cara kerja sebagaimana ditunjukan oleh mekanisme antar hubungan sehingga terbentuk totalitas adalah sistem. Dengan kalimat lain, tanpa keterlibatan sistem maka unsur-unsur hanyalah agregasi.
B.     Indikator Pembahasan
1.      Defenisi dan Konsep Strukturalisme
2.      Paham Karl Max sebagai pelopor konsep Strukturalisme
3.      Konflik dan Teori Strukturalisme (Memahami misteri kudeta turki)

C.     Tujan Penulisan
1.      Mengetahui apa itu stukturalisme
2.      Mengetahui konsep strukturalisme menurut Karl Max
3.      Bagaimana Implementasinya
4.      Mengetahui keterkaitan suatu permasalahan dengan konsep strukturalisme

PEMBAHASAN
(Defenisi dan Konsep strukturalisme)
Secara definitif strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme  antar hubungannya, di satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur lainnya, di pihak yang lain hubungan antara unsur (unsur) dengan totalitasnya. Hubungan tersebut tidak semata-mata bersifat positif, seperti keselarasan, kesesuaian, dan kesepahaman, tetapi juga negatif, seperti konflik dan pertentangan. Istilah struktur sering dikacaukan dengan sistem.
Dalam  hal ini, bagaimana para kaum strukturalis mengemukakan pendapat mereka mengenai dengan keadilan dengan harapan keadilan itu di pahami secara mendalah oleh semua oang. Dalam pembahasan strukturalisme tidak lepas dari hubungan politik internasional yang didalam nya terdapat unsur ekonomi dan politik, berdasarkan kondisi dan keadaan konkrit yang dialami oleh negara-negara miskin atau negara terpinggir yang tertindas oleh negara lain akibat hubungan politik yang dijalani. Karena dalam proses hubungan kerjasama politik dan ekonomi tentunya sudah dirancang sedemikian rupa untuk menguntungkan kelas-kelas sosial tertentu, sehingga menghasilkan sebuah “sistem dunia” yang pada dasarnya tidak adil. Teori sistem dunia merupakan sebuah pembagian kerja secara teritorial dalam produksi,  pertukaran barang dan bahan mentah. Pembagian kerja mengacu pada kekuatan dan hubungan produksi dalam ekonomi dunia secara keseluruhan. Oleh karenanya, negara berkembang akan tertindas oleh negara maju, karena segala fasilitas dan sarana prasarana lebih unggul dan dimiliki lengkap oleh negara maju, tidak dengan negara berkembang.
Maka pada akhirnya, berbicara mengenai strukturalisme tidak lepas dari pembahasan mengenai konflik sosial. Konflik sosial adalah pertentangan antara segmen-segmen masyarakat untuk merebut aset-aset bernilai. Bentuk dari konflik sosial itu bisa bermacam-macam, yakni konflik antara individu, kelompok , atau bangsa.
1.      Paham Karl Max sebagai pelopor konsep Strukturalisme
Karl Marx sebagai salah satu pelopor strukturalisme yang mengatakan bahwa potensi-potensi konflik terutama terjadi dalam bidang pekonomian, dan ia pun memperlihatkan bahwa perjuangan atau konflik juga terjadi dalam bidang distribusi prestise/status dan kekuasaan politik.
Segi-segi pemikiran filosofis Marx berpusat pada usaha untuk membuka kedok sistem nilai masyarakat, pola kepercayaan dan bentuk kesadaran sebagai ideologi yang mencerminkan dan memperkuat kepentingan kelas yang berkuasa. Meskipun dalam pandangannya, orientasi budaya tidak seluruhnya ditentukan oleh struktur kelas ekonomi, orientasi tersebut sangat dipengaruhi dan dipaksa oleh struktur tersebut. Tekanan Marx pada pentingnya kondisi materiil seperti terlihat dalam struktur masyarakat, membatasi pengaruh budaya terhadap kesadaran individu para pelakunya. Terdapat beberapa segi kenyataan sosial yang Marx tekankan, yang tidak dapat diabaikan oleh teori apa pun yaitu antara lain adalah, pengakuan terhadap adanya struktur kelas dalam masyarakat, kepentingan ekonomi yang saling bertentangan diantara orang-orang dalam kelas berbeda, pengaruh yang besar dari posisi kelas ekonomi terhadap gaya hidup seseorang serta bentuk kesadaran dan berbagai pengaruh dari konflik kelas dalam menimbulkan perubahan struktur sosial, merupakan sesuatu hal yang sangat penting.
Marx lebih cenderung melihat nilai dan norma budaya sebagai ideologi yang mencerminkan usaha kelompok-kelompok dominan untuk membenarkan berlangsungnya dominasi mereka. Selanjutnya, mereka pun berusaha mengungkapkan berbagai kepentingan yang berbeda dan bertentangan yang mungkin dikelabui oleh munculnya konsensus nilai dan norma. Apabila konsensus terhadap nilai dan norma ada, para ahli teori konflik menduga bahwa konsensus itu mencerminkan kontrol dari kelompok dominan dalam masyarakat terhadap berbagai media komunikasi (seperti lembaga pendidikan dan lembaga media massa), dimana kesadaran individu dan komitmen ideologi bagi kepentingan kelompok dominan dibentuk.
Perspektif konflik yang berakar pada pemikiran Karl Marx, betapapun radikalsme diakui sebagai salah satu jalan keluar sehingga sangat erat dengan revolusi, hal ini tidak dimaksudkan menumpahkan darah. George Ritzer misalnya mengatakan bahwa tidak benar kalau Marxisme dikatakan sebagai ideology radikal yang haus darah (a bloodthirsty radical ideology). Marx adalah seorang humanis. Hatinya terluka melihat pnderitaan kaum buruh akibat eksploitasi di bawah sistem yang kapitalistik. Rasa kemanusiaan itu mendorongnya untuk mencetuskan keinginan merubah tatanan kapitalistik dalam sistem yang mapan tetapi dalam praktek mengeksplotasi masyarakat. Oleh karena itu, sistem tersebut harus diubah agar menjadi lebih manusiawi. Tetapi hal itu hanya harus mungkin terjadi dalam sistem sosialis. Teori konflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial. Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada keteraturan masyarakat. Teori konflik juga membicarakan mengenai otoritas yang berbeda-beda. Otoritas yang berbeda-beda ini menghasilkan superordinasi dan subordinasi. Perbedaan antara superordinasi dan subordinasi dapat menimbulkan konflik karena adanya perbedaan kepentingan. Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan sosial.
Karl Marx berpendapat bahwa bentuk-bentuk konflik yang terstruktur antara berbagai individu dan kelompok muncul terutama melalui terbentuknya hubungan-hubungan pribadi dalam produksi. Sampai pada titik tertentu dalam evolusi kehidupan social manusia, hubungan pribadi dalam produksi mulai menggantikan pemilihan komunal atas kekuatan-kekuatan produks. Dengan demikian masyarakat terpecah menjadi kelas-kelas social berdasarkan kelompok-kelompok yang memiliki dan mereka yang tidak memiliki kekuatan-kekuatan produksi. Jadilah kelas dominan menjalin hubungan dengan kelas-kelas yang tersub-ordinasi dalam sebuah proses eksploitasi ekonomi.
Teori Marx memandang eksistensi hubungan pribadi dalam produksi dan kelas-kelas social sebagai elemen kunci dalam banyak masyarakat. Ia juga berpendapat bahwa pertentangan antara kleas dominan dan kelas yang tersubordinasi memainkan peranan sentral dalam menciptakan bentuk-bentuk penting perubahan social. Sebenarnya sebagaimana yang ia kumandangkan, sejarah dari semua masyarakat yang ada hingga kini adalah sejarah pertentangan-pertentangan kelas. Marx menghadirkan suatu analisis yang kompleks dan masih relevan tentang dasar-dasar historis ketidaksetaraan di dalam kapitalisme dan bagaimana cara mengubahnya. Walaupun teori-teorinya terbuka untuk berbagai interpretasi, namun kita tidak mencoba untuk menghadirkan interpretasi tentangnya yang membuat teori-teorinya konsisten dengan studi-studi historis aktualnya.
Marx percaya bahwa masyarakat terbentuk di sekeliling kontradiksi-kontadiksi yang hanya bisa di selesaikan melauli perubahan sosial yang aktual. Salah satu kontradiksi mendasar yang di lihat Marx adalah antara sifat dasar manusia dan syarat-syarat kerja di dalam kapitalisme. Bagi Marx sifat dasar manusaia dikaitkan dengan kerja yang mengekspresikan dan mentranformasikan hakikat kita. Dibawah kapitalisme, kerja kita dijual sebagai komoditas, dan hal lain menyebabkan kita teraliensi dari aktivitas produktif kita. Analisis marx terhadap masyarakat kapitalis. Kita mulai dengan konsep sentral tentang komoditas-komoditas, kemudian melihat kontradiksi antara nilai-guna komoditas tersebut dan nilai-tukarnya. Di dalam kapitalisme, nilai komoditas tukar cenderung melebihi penggunaanya yang aktual di dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia, oleh karena itu, komoditas-komoditas mulai tampak terpisah dari kerja manusia dan kebutuhan manusia dan pada akhirnya tampak menjadi berkuasa atas manusia. Marx menyebut hal ini dengan fetisisme komoditas. Fetisisme ini merupakan suatu bentuk reifikasi, dan pengaruhnya lebih dari sekedar terhadap komoditas-komoditas: secara khusus, mempengaruhi sistem ekonomi yang mulai terlihat seperti kekuatan objektif dan nonpolitis yang menentukan kehidupan manusia. Karena refikasi ini, kita tidak melihat bahwa ide kapital memuat suatu relasi sosial yang kontadiktif antara orang-orang yang mengambil keuntungan dari investasi-investasi dan orang-orang yang bekerja menyediakan nilai-surplus yang membentuk keuntungan. Marx percaya kalau kapitalisme adalah sesuatu yang baik dan bahwa kritik pedasnya terhadap kapitalisme adalah sesuatu yang baik dari sudut kemungkinannya dimasa yang akan datang.
2.      Konflik Timur Tengah dalam Persfektif Strukturalisme (Misteri Kudeta Turki)    
Mungkin Saat ini berita yang sangat menggemparkan dunia adalah misteri kudeta yang dilakukan oleh militer turki terhadap pemerintahan Tayyip Erdogan (Sebagai Presiden). Sangat banyak sekali isu-isu yang menyimpang terkait peristiwa tersebut, ada yang mengatakan itu adalah sikap tenar presiden erdogan untuk menarik simpatik publik, ada yang mengatakan itu adalah dampak kambing hitam yang dilakukan oleh negara yang provokator, ada yang mengatakan itu adalah akibat dari kegagalan kepemimpinan Presiden Tayyip Erdogan dalam memimpin turki. Kita sebagai akademisi dan orang yang berilmu pengetahuan tentunya tidak terfokus pada suatu isu yang sumber nya belum tentu jelas, kita tidak boleh menerima berita yang tersiarkan dan menjadi referensi untuk beragumen dalam mengkritisi hal tersebut, dan tentunya kita sebagai orang yang berintelektual tinggi memiliki filter yang mantap dalam menyaring berita-berita yang ada, tidak terfokus pada satu berita tetapi kita mampu menampung banyaknya berita/informasi yang ada lalu kita telaah dengan baik sehingga mendapatkan titik akhir kesimpulan yang layak untuk kita publikasikan dan tentunya sesuai dengan kondisi.
Dari pembahasan konflik ini, timbul lah beberapa pertanyaan, apa kaitannya Konflik yang terjadi di Negara Turki dengan Teori Strukturalisme ini ? apakah dengan penjelasan  teori ini menghasilkan out put sebagai solusi mengatasi konflik ? Jawaban simple nya adalah, apa salah nya kita memahami suatu masalah dengan membandingkan dan menguraikan dengan lebih mendalam lagi.
Dalam pemaparan defenisi, konsep dan asumsi dari tokoh pelopor penting teori strukturalisme sudah sangat jelas sekali penjelasannya mengenai struturalisme ini tidak lepas dari hubungan ekonomi dan politik sehingga mnegacu pada konflik yang berlangsung. Karl Marx berpendapat bahwa bentuk-bentuk konflik yang terstruktur antara berbagai individu dan kelompok muncul terutama melalui terbentuknya hubungan-hubungan pribadi dalam produksi. Sampai pada titik tertentu dalam evolusi kehidupan social manusia, hubungan pribadi dalam produksi mulai menggantikan pemilihan komunal atas kekuatan-kekuatan produks. Dengan demikian masyarakat terpecah menjadi kelas-kelas social berdasarkan kelompok-kelompok yang memiliki dan mereka yang tidak memiliki kekuatan-kekuatan produksi. Jadilah kelas dominan menjalin hubungan dengan kelas-kelas yang tersub-ordinasi dalam sebuah proses eksploitasi ekonomi. Nah,  kita bisa melihat apa-apa saja yang melatar-belakangi terjadi nya kudeta yang dilakukan oleh militer negara turki sendiri terhadap kepemimpinan Presiden Tayyip Erdogan. Sebenarnya ini adalah masalah kelompok dalam satu negara kesatuan, tetapi masalah ini menarik perhatian orang banyak (Skala Internasional). Interpretasi yang dilakukan oleh Militer Turki yang tergabung dengan tim pelaku kudeta juga tidak kalah dengan interpretasi yang dilakukan antara Tayyip Erdogan selaku presiden turki dalam mengajak rakyat nya untuk membangun satu kesatuan menjadi suatu kekuatan melawan orang yang mencoba mengkudeta pemerintahannya, Dia gunakan fitur FaceTime pada iPhone-nya untuk menghubungi penyiar berita CNN Turk, Nevsin Mengu. Via fitur di ponsel pintar itulah, Erdogan secara efektif bisa berkomunikasi secara visual dan meminta ribuan rakyat Turki turun ke jalan melawan kudeta militer.
”Mari kita berkumpul sebagai bangsa di square (lapangan). Saya percaya kami akan melenyapkan pendudukan ini dalam waktu singkat,” seru Erdogan kepada rakyatnya.
Ada beberapa isu yang melatar-belakangi terjadi nya kudeta militer di turki, mengutip pesan yang disampaikan oleh KH Masduki Baidlowi (Ketua Komisi Infokom MUI Pusat) dalam tulisan nya yang mengatakan bahwa terjadi nya kudeta militer disebabkan ketidaksenangan militer turki yang beridiologi skuler terhadap erdogan karena kedekatan partai erdogan dengan ikhwanul muslimin (IM).
Sementara Fathullah Gulen dikenal sebagai pioner dan penggerak pendidikan yang basisnya mulai dari kalangan elite sampai kelas bawah. Paham keagamaan atau garis ideologi Gullen lebih ke arah tasawuf  yang berakar sangat kuat pada muslim Turki sekarang. Akar ini terpatri sejak zaman imperium Ottoman. Dengan gerakan tasawuf dan pendidikan, yang cabang-cabangnya sudah ke berbagai negara, Gullen bisa mempengaruhi kalangan birokrat dan militer. Sampai saat ini pengaruhnya masih sangat kuat di Turki. Inilah yg ingin diperbaiki oleh Erdogan, tetapi belum berhasil.
Erdogan sangat phobia terhadap Gullen bahkan Gullen dituduhnya sebagai agen CIA, serta dituduh macam-macam di balik setiap gerakan politik yang ingin mengancam kekuasaan Erdogan. Perseteruan ini tak kunjung selesai. Sebenarnya sangat menarik jika perseteruan politik tersebut berlangsung dalam bingkai politik demokrasi, bukan dengan cara-cara kudeta militer.
Penjelasan mengenai latar belakang tindakan kudeta milter turki tersebut adalah sedikit memiliki nilai kebenaran yang bisa dipercaya, walaupun terdapat diantaranya ada nya informasi yang melatar-belakangi tindakan kudeta militer tersebut disebabkan karena provokasi yang dilakukan negara barat untuk menimbulkan konflik baru di daerah timur tengah, dan ada berita yang melatar-belakangi kudeta militer dikarenakan tidak bagusnya kinerja kepemimpinan Presiden Tayyip erdogan, sedangkan kita ketahui bahwa Erdogan dalam menjalani learning by doing untuk meniti karier politik dalam sistem politik militer yg otoritarian nan sekuler. Mereka sabar seperti menitih buih sampai akhirnya berhasil seperti sekarang. Modal utama dari kalangan politisi Islam di Turki adalah menjaga integritas dan kejujuran (sesuatu yang tak dimiliki oleh politisi muslim Indonesia). Itulah yang menyebabkan politisi muslim seperti Erdogan ketika terpilih sebagai walikota Istambul dulu sangat dicintai rakyat. Bekal ini yang membawa karier politik Erdogan melesat. Militer perlahan-lahan terpinggirkan secara politik. Kudeta militer tak akan laku pada rakyat Turki yang sudah mulai mengenyam nikmatnya politik demokrasi seperti sekarang.
Dari penjelasan diatas, maka apa solusi yang ditawarkan dari uaraian teori strukturalisme ini ?
Kalau seandainya kita hubungkan antara pemahaman pelopor teori strukturalisme ini (Karl Max) dalam memberikan solusi untuk mengatasi permasalah agak sedikit tidak berkesinambungan dengan kondisi saat sekarang ini. Karena di masa dahulu karl max menawarkan opsi dalam mengatasi masalah yang menyangkut permasalahan antara kaum pemilik modal dan kaum buruh. Namun yang namanya paham, asumsi, konsep, serta teori itu tidak hanya bejumlah sedikit, sangat banyak pengajaran yang ditawarkan melalui teori seperti halnya teori strukturalisme ini dalam mengatasi masalah. Misal, seperti gagasan Karl max dalam mengatasi masalah jika idiologi kapitalis masa itu tidak bisa menciptakan kesejahteraan maka digantikan dengan idiologi sosialisme. Dalam idiologi sosialisme membatasi hak kekuasaan seseorang dan menerapkan nilai keadilan dan kesetaraan demi mencapai kesejahteraan. Jika dikaitkan dengan peristiwa kudeta militer yang terjadi di turki, yang latar belakang penyebabnya adalah adanya selisih paham perbedaan idiologi, antara presiden Sayyip erdogan beseta pengikutnya yang menganut idiologi ikhwanul muslimin sedangkan militer dan aparatur negara menganut idiologi skularisme (idiologi yang tidak terikat pada agama dan kepercayaan). Jika terus dibiarkan tanpa ada solusi pemersatu, maka konflik dan ketidaksinambungan akan terus terjadi. Dan solusi nya adalah, dengan menggunakan idiologi sosialisme sepeti yang ditawarkan karl max dalam mengatasi masalah, karena dalam idiologi ini menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kesetaraan untuk mencapai kesejaheraan, dan dengan idiologi ini menawarkan opsi bahwa walaupun dalam hidup bernegara terdapat perbedaan keyakinan dan kepercayaan itu bukanlah suatu permasalahan untuk memicu terjadinya perpecahan, hal itu akan terjadi jika satu sama lain tidak mengatur dan membatasi gerakan apa yang menjadi keyakinan bagi mereka.
Tidak mengatur dan membatasi gerakan untuk ritual kepercayaan mereka, bukan berarti seseorang atau kelompok dengan semena-mena bisa melakukan tindakan yang radikal atau tidak berintegrasi (melanggar aturan), tapi hal ini mencakup seperti dalam uraian “Lakum Dinukum Waliyadin yang merupakan ayat ke-6 dari surat Al Kafiiruun yang terjemahannya adalah: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. Jika terjadi nya kudeta milter di turki disebabkan pemasalahan perbedaan idiologi, kepercayaan, dan agama. Maka idiologi sosialisme sangat cocok diterpkan dengan landasan dari Lakum Dinukum Waliyadin “Agamamu untukmu, agamaku untukku”.



KESIMPULAN
Dari teori structural konflik Marx sangat sinkron sekali teorinya dengan kondisi yang terjadi pad hari ini, adanya kesenjangan social antara dua kelas yang berhadap muka dalam kondisi yang tidak terdamaikan ditengah masyarakat hari ini yaitu antara kelompok skularisme (Militer dan aparatur negara) dengan kelompok Ikhwanul Muslimin (Presiden Sayyip Erdogan dan pengikut). Menawarkan idiologi sosialisme sebagai opsi untuk menanggulangi masalah yang terjadi.
    Dengan Idiologi sosialisme diharapkan mampu menyatukan kembali antara kelompok yang tidak berkesinambungan, agar dalam kehidupan bangsa dan bernegara hidup dengan tentram, aman dan sejahterah.
    Memang manusia tidak akan pernah terlepas dari yang namanya konflik, silih berganti masalah itu akan selalu datang. Selesai satu urusan maka akan datang beribu uusan yang lain. Memang inilah jalan takdir sebagai manusia, namun dengan kesempurnaan yang diberikan oleh sang-pencipta mampu menciptakan keteguhan bagi diri kita dalam menanggulangi dan mengatasi setiap permasalahan tersebut.
    Walaupun kita mencoba menghindari dengan yang namanya konflikm namun konflik tersebut akan tetap datang , mendekat, dan menghampiri. Tetapi ada cara beban itu tidak menjadi sesuatu yang memberatkan diri kita, yaitu menanamkan sikap saling mengerti, memehami, dan memafkan satu sama lain, Insyaallah hidup akan damai.

DAFTAR PUSTAKA
Amin, S. (1947), Accumulation on a World Scale : A Critique of the Theory of Underdevelopment (2 Vols), London: Monthly Review Press.
Amin, S. (1990), Maldevelopment: Anatomy of a Global Failure, London: Zed Books.
Baran, P.(1957), The Political Economy of Growth, New York: Monthly Review Press.
Cardoso, F. Dan Faletto, E (1979), Depedency and Development in Latin America, Bakeley: University of callifornia Press.
Chase-Dunn, C. (1989), Global Formation: Structures of the World Economy, Oxford: Blackwells.
Frank, A. G. (1971), Depedent  Accumulation and underdevelopment, New York: Monthly Review Press
Galtung, J. (1971), A Structural Theory of Imprealisme, The Journal of Peace Research, Vol. 8, No. 1 hlm. 81-117.
George, S (1994), A Fate Worse Than Debt, London: Penguin
Harris, N. (1990), The End of the Third World, London: Penguin
Kamrava, M. (1993), Politics and society in the Third World, London : Routledge
Kolko, J (1998), Restructuring the World E

No comments:

Post a Comment