“Analisis Terhadap
Misteri Kudeta Militer”
Turki Berdasakan Teori Strukturalisme
Turki Berdasakan Teori Strukturalisme
A. Latar
Belakang
Strukturalisme,
bebicara strukturalisme tidak lepas dari pembicaraan mengenai hubungan antara
politik dan ekonomi. Kaum strukturalis menekankan pentingnya seluruh struktur
hubungan yang didalamnya belangsung interaksi politik dan ekonomi. Secara
definitif strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu
sendiri, dengan mekanisme antar
hubungannya, di satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur lainnya,
di pihak yang lain hubungan antara unsur (unsur) dengan totalitasnya. Hubungan
tersebut tidak semata-mata bersifat positif, seperti keselarasan, kesesuaian,
dan kesepahaman, tetapi juga negatif, seperti konflik dan pertentangan. Istilah
struktur sering dikacaukan dengan sistem. Definisi dan ciri-ciri sruktur sering
disamakan dengan definisi dan ciri-ciri sistem. Secara etimologis struktur
berasal dari kata structura (Latin), berati bentuk, bangunan, sedangkan sistem
berasal dari kata systema (Latin), berarti cara. Struktur dengan demikian
menunjuk pada kata benda, sedangkan sistem menunjuk pada kata kerja.
Pengertian-pengertian struktur yang telah digunakan untuk menunjuk unsur-unsur
yang membentuk totalitas pada dasarnya telah mengimplikasikan keterlibatan
sistem. Artinya, cara kerja sebagaimana ditunjukan oleh mekanisme antar
hubungan sehingga terbentuk totalitas adalah sistem. Dengan kalimat lain, tanpa
keterlibatan sistem maka unsur-unsur hanyalah agregasi.
B. Indikator
Pembahasan
1. Defenisi
dan Konsep Strukturalisme
2. Paham
Karl Max sebagai pelopor konsep Strukturalisme
3. Konflik
dan Teori Strukturalisme (Memahami misteri kudeta turki)
C. Tujan
Penulisan
1. Mengetahui
apa itu stukturalisme
2. Mengetahui
konsep strukturalisme menurut Karl Max
3. Bagaimana
Implementasinya
4. Mengetahui
keterkaitan suatu permasalahan dengan konsep strukturalisme
PEMBAHASAN
(Defenisi dan Konsep strukturalisme)
(Defenisi dan Konsep strukturalisme)
Secara
definitif strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu
sendiri, dengan mekanisme antar
hubungannya, di satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur lainnya,
di pihak yang lain hubungan antara unsur (unsur) dengan totalitasnya. Hubungan
tersebut tidak semata-mata bersifat positif, seperti keselarasan, kesesuaian,
dan kesepahaman, tetapi juga negatif, seperti konflik dan pertentangan. Istilah
struktur sering dikacaukan dengan sistem.
Dalam hal ini, bagaimana para kaum strukturalis
mengemukakan pendapat mereka mengenai dengan keadilan dengan harapan keadilan
itu di pahami secara mendalah oleh semua oang. Dalam pembahasan strukturalisme
tidak lepas dari hubungan politik internasional yang didalam nya terdapat unsur
ekonomi dan politik, berdasarkan kondisi dan keadaan konkrit yang dialami oleh
negara-negara miskin atau negara terpinggir yang tertindas oleh negara lain
akibat hubungan politik yang dijalani. Karena dalam proses hubungan kerjasama
politik dan ekonomi tentunya sudah dirancang sedemikian rupa untuk
menguntungkan kelas-kelas sosial tertentu, sehingga menghasilkan sebuah “sistem
dunia” yang pada dasarnya tidak adil. Teori sistem dunia merupakan sebuah
pembagian kerja secara teritorial dalam produksi, pertukaran barang dan bahan mentah. Pembagian
kerja mengacu pada kekuatan dan hubungan produksi dalam ekonomi dunia secara
keseluruhan. Oleh karenanya, negara berkembang akan tertindas oleh negara maju,
karena segala fasilitas dan sarana prasarana lebih unggul dan dimiliki lengkap
oleh negara maju, tidak dengan negara berkembang.
Maka
pada akhirnya, berbicara mengenai strukturalisme tidak lepas dari pembahasan
mengenai konflik sosial. Konflik sosial adalah pertentangan antara
segmen-segmen masyarakat untuk merebut aset-aset bernilai. Bentuk dari konflik
sosial itu bisa bermacam-macam, yakni konflik antara individu, kelompok , atau
bangsa.
1. Paham
Karl Max sebagai pelopor konsep Strukturalisme
Karl
Marx sebagai salah satu pelopor strukturalisme yang mengatakan bahwa
potensi-potensi konflik terutama terjadi dalam bidang pekonomian, dan ia pun
memperlihatkan bahwa perjuangan atau konflik juga terjadi dalam bidang
distribusi prestise/status dan kekuasaan politik.
Segi-segi
pemikiran filosofis Marx berpusat pada usaha untuk membuka kedok sistem nilai
masyarakat, pola kepercayaan dan bentuk kesadaran sebagai ideologi yang
mencerminkan dan memperkuat kepentingan kelas yang berkuasa. Meskipun dalam
pandangannya, orientasi budaya tidak seluruhnya ditentukan oleh struktur kelas
ekonomi, orientasi tersebut sangat dipengaruhi dan dipaksa oleh struktur
tersebut. Tekanan Marx pada pentingnya kondisi materiil seperti terlihat dalam
struktur masyarakat, membatasi pengaruh budaya terhadap kesadaran individu para
pelakunya. Terdapat beberapa segi kenyataan sosial yang Marx tekankan, yang
tidak dapat diabaikan oleh teori apa pun yaitu antara lain adalah, pengakuan
terhadap adanya struktur kelas dalam masyarakat, kepentingan ekonomi yang
saling bertentangan diantara orang-orang dalam kelas berbeda, pengaruh yang
besar dari posisi kelas ekonomi terhadap gaya hidup seseorang serta bentuk
kesadaran dan berbagai pengaruh dari konflik kelas dalam menimbulkan perubahan
struktur sosial, merupakan sesuatu hal yang sangat penting.
Marx
lebih cenderung melihat nilai dan norma budaya sebagai ideologi yang
mencerminkan usaha kelompok-kelompok dominan untuk membenarkan berlangsungnya
dominasi mereka. Selanjutnya, mereka pun berusaha mengungkapkan berbagai
kepentingan yang berbeda dan bertentangan yang mungkin dikelabui oleh munculnya
konsensus nilai dan norma. Apabila konsensus terhadap nilai dan norma ada, para
ahli teori konflik menduga bahwa konsensus itu mencerminkan kontrol dari
kelompok dominan dalam masyarakat terhadap berbagai media komunikasi (seperti
lembaga pendidikan dan lembaga media massa), dimana kesadaran individu dan
komitmen ideologi bagi kepentingan kelompok dominan dibentuk.
Perspektif
konflik yang berakar pada pemikiran Karl Marx, betapapun radikalsme diakui
sebagai salah satu jalan keluar sehingga sangat erat dengan revolusi, hal ini
tidak dimaksudkan menumpahkan darah. George Ritzer misalnya mengatakan bahwa
tidak benar kalau Marxisme dikatakan sebagai ideology radikal yang haus darah
(a bloodthirsty radical ideology). Marx adalah seorang humanis. Hatinya terluka
melihat pnderitaan kaum buruh akibat eksploitasi di bawah sistem yang
kapitalistik. Rasa kemanusiaan itu mendorongnya untuk mencetuskan keinginan
merubah tatanan kapitalistik dalam sistem yang mapan tetapi dalam praktek
mengeksplotasi masyarakat. Oleh karena itu, sistem tersebut harus diubah agar
menjadi lebih manusiawi. Tetapi hal itu hanya harus mungkin terjadi dalam
sistem sosialis. Teori konflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem
sosial. Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya
berada pada keteraturan masyarakat. Teori konflik juga membicarakan mengenai
otoritas yang berbeda-beda. Otoritas yang berbeda-beda ini menghasilkan
superordinasi dan subordinasi. Perbedaan antara superordinasi dan subordinasi
dapat menimbulkan konflik karena adanya perbedaan kepentingan. Teori konflik
juga mengatakan bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan sosial.
Karl
Marx berpendapat bahwa bentuk-bentuk konflik yang terstruktur antara berbagai
individu dan kelompok muncul terutama melalui terbentuknya hubungan-hubungan
pribadi dalam produksi. Sampai pada titik tertentu dalam evolusi kehidupan
social manusia, hubungan pribadi dalam produksi mulai menggantikan pemilihan
komunal atas kekuatan-kekuatan produks. Dengan demikian masyarakat terpecah
menjadi kelas-kelas social berdasarkan kelompok-kelompok yang memiliki dan
mereka yang tidak memiliki kekuatan-kekuatan produksi. Jadilah kelas dominan
menjalin hubungan dengan kelas-kelas yang tersub-ordinasi dalam sebuah proses
eksploitasi ekonomi.
Teori
Marx memandang eksistensi hubungan pribadi dalam produksi dan kelas-kelas
social sebagai elemen kunci dalam banyak masyarakat. Ia juga berpendapat bahwa
pertentangan antara kleas dominan dan kelas yang tersubordinasi memainkan
peranan sentral dalam menciptakan bentuk-bentuk penting perubahan social.
Sebenarnya sebagaimana yang ia kumandangkan, sejarah dari semua masyarakat yang
ada hingga kini adalah sejarah pertentangan-pertentangan kelas. Marx
menghadirkan suatu analisis yang kompleks dan masih relevan tentang dasar-dasar
historis ketidaksetaraan di dalam kapitalisme dan bagaimana cara mengubahnya.
Walaupun teori-teorinya terbuka untuk berbagai interpretasi, namun kita tidak
mencoba untuk menghadirkan interpretasi tentangnya yang membuat teori-teorinya
konsisten dengan studi-studi historis aktualnya.
Marx
percaya bahwa masyarakat terbentuk di sekeliling kontradiksi-kontadiksi yang
hanya bisa di selesaikan melauli perubahan sosial yang aktual. Salah satu
kontradiksi mendasar yang di lihat Marx adalah antara sifat dasar manusia dan
syarat-syarat kerja di dalam kapitalisme. Bagi Marx sifat dasar manusaia
dikaitkan dengan kerja yang mengekspresikan dan mentranformasikan hakikat kita.
Dibawah kapitalisme, kerja kita dijual sebagai komoditas, dan hal lain
menyebabkan kita teraliensi dari aktivitas produktif kita. Analisis marx
terhadap masyarakat kapitalis. Kita mulai dengan konsep sentral tentang
komoditas-komoditas, kemudian melihat kontradiksi antara nilai-guna komoditas
tersebut dan nilai-tukarnya. Di dalam kapitalisme, nilai komoditas tukar
cenderung melebihi penggunaanya yang aktual di dalam memenuhi
kebutuhan-kebutuhan manusia, oleh karena itu, komoditas-komoditas mulai tampak
terpisah dari kerja manusia dan kebutuhan manusia dan pada akhirnya tampak
menjadi berkuasa atas manusia. Marx menyebut hal ini dengan fetisisme
komoditas. Fetisisme ini merupakan suatu bentuk reifikasi, dan pengaruhnya
lebih dari sekedar terhadap komoditas-komoditas: secara khusus, mempengaruhi
sistem ekonomi yang mulai terlihat seperti kekuatan objektif dan nonpolitis
yang menentukan kehidupan manusia. Karena refikasi ini, kita tidak melihat
bahwa ide kapital memuat suatu relasi sosial yang kontadiktif antara
orang-orang yang mengambil keuntungan dari investasi-investasi dan orang-orang
yang bekerja menyediakan nilai-surplus yang membentuk keuntungan. Marx percaya
kalau kapitalisme adalah sesuatu yang baik dan bahwa kritik pedasnya terhadap
kapitalisme adalah sesuatu yang baik dari sudut kemungkinannya dimasa yang akan
datang.
2. Konflik
Timur Tengah dalam Persfektif Strukturalisme (Misteri Kudeta Turki)
Mungkin
Saat ini berita yang sangat menggemparkan dunia adalah misteri kudeta yang
dilakukan oleh militer turki terhadap pemerintahan Tayyip Erdogan (Sebagai
Presiden). Sangat banyak sekali isu-isu yang menyimpang terkait peristiwa
tersebut, ada yang mengatakan itu adalah sikap tenar presiden erdogan untuk
menarik simpatik publik, ada yang mengatakan itu adalah dampak kambing hitam
yang dilakukan oleh negara yang provokator, ada yang mengatakan itu adalah
akibat dari kegagalan kepemimpinan Presiden Tayyip Erdogan dalam memimpin
turki. Kita sebagai akademisi dan orang yang berilmu pengetahuan tentunya tidak
terfokus pada suatu isu yang sumber nya belum tentu jelas, kita tidak boleh
menerima berita yang tersiarkan dan menjadi referensi untuk beragumen dalam
mengkritisi hal tersebut, dan tentunya kita sebagai orang yang berintelektual
tinggi memiliki filter yang mantap dalam menyaring berita-berita yang ada,
tidak terfokus pada satu berita tetapi kita mampu menampung banyaknya
berita/informasi yang ada lalu kita telaah dengan baik sehingga mendapatkan
titik akhir kesimpulan yang layak untuk kita publikasikan dan tentunya sesuai
dengan kondisi.
Dari
pembahasan konflik ini, timbul lah beberapa pertanyaan, apa kaitannya Konflik
yang terjadi di Negara Turki dengan Teori Strukturalisme ini ? apakah dengan
penjelasan teori ini menghasilkan out
put sebagai solusi mengatasi konflik ? Jawaban simple nya adalah, apa salah nya
kita memahami suatu masalah dengan membandingkan dan menguraikan dengan lebih
mendalam lagi.
Dalam
pemaparan defenisi, konsep dan asumsi dari tokoh pelopor penting teori
strukturalisme sudah sangat jelas sekali penjelasannya mengenai struturalisme
ini tidak lepas dari hubungan ekonomi dan politik sehingga mnegacu pada konflik
yang berlangsung. Karl Marx berpendapat bahwa bentuk-bentuk konflik yang
terstruktur antara berbagai individu dan kelompok muncul terutama melalui
terbentuknya hubungan-hubungan pribadi dalam produksi. Sampai pada titik
tertentu dalam evolusi kehidupan social manusia, hubungan pribadi dalam
produksi mulai menggantikan pemilihan komunal atas kekuatan-kekuatan produks.
Dengan demikian masyarakat terpecah menjadi kelas-kelas social berdasarkan kelompok-kelompok
yang memiliki dan mereka yang tidak memiliki kekuatan-kekuatan produksi.
Jadilah kelas dominan menjalin hubungan dengan kelas-kelas yang tersub-ordinasi
dalam sebuah proses eksploitasi ekonomi. Nah,
kita bisa melihat apa-apa saja yang melatar-belakangi terjadi nya kudeta
yang dilakukan oleh militer negara turki sendiri terhadap kepemimpinan Presiden
Tayyip Erdogan. Sebenarnya ini adalah masalah kelompok dalam satu negara
kesatuan, tetapi masalah ini menarik perhatian orang banyak (Skala Internasional).
Interpretasi yang dilakukan oleh Militer Turki yang tergabung dengan tim pelaku
kudeta juga tidak kalah dengan interpretasi yang dilakukan antara Tayyip
Erdogan selaku presiden turki dalam mengajak rakyat nya untuk membangun satu
kesatuan menjadi suatu kekuatan melawan orang yang mencoba mengkudeta
pemerintahannya, Dia gunakan fitur FaceTime pada iPhone-nya untuk menghubungi
penyiar berita CNN Turk, Nevsin Mengu. Via fitur di ponsel pintar itulah,
Erdogan secara efektif bisa berkomunikasi secara visual dan meminta ribuan
rakyat Turki turun ke jalan melawan kudeta militer.
”Mari
kita berkumpul sebagai bangsa di square (lapangan). Saya percaya kami akan
melenyapkan pendudukan ini dalam waktu singkat,” seru Erdogan kepada rakyatnya.
Ada
beberapa isu yang melatar-belakangi terjadi nya kudeta militer di turki,
mengutip pesan yang disampaikan oleh KH
Masduki Baidlowi (Ketua Komisi Infokom MUI Pusat) dalam tulisan nya yang
mengatakan bahwa terjadi nya kudeta militer disebabkan ketidaksenangan militer
turki yang beridiologi skuler terhadap erdogan karena kedekatan partai erdogan
dengan ikhwanul muslimin (IM).
Sementara
Fathullah Gulen dikenal sebagai pioner dan penggerak pendidikan yang basisnya
mulai dari kalangan elite sampai kelas bawah. Paham keagamaan atau garis
ideologi Gullen lebih ke arah tasawuf yang
berakar sangat kuat pada muslim Turki sekarang. Akar ini terpatri sejak zaman
imperium Ottoman. Dengan gerakan tasawuf dan pendidikan, yang cabang-cabangnya
sudah ke berbagai negara, Gullen bisa mempengaruhi kalangan birokrat dan
militer. Sampai saat ini pengaruhnya masih sangat kuat di Turki. Inilah yg
ingin diperbaiki oleh Erdogan, tetapi belum berhasil.
Erdogan
sangat phobia terhadap Gullen bahkan Gullen dituduhnya sebagai agen CIA, serta
dituduh macam-macam di balik setiap gerakan politik yang ingin mengancam
kekuasaan Erdogan. Perseteruan ini tak kunjung selesai. Sebenarnya sangat
menarik jika perseteruan politik tersebut berlangsung dalam bingkai politik
demokrasi, bukan dengan cara-cara kudeta militer.
Penjelasan
mengenai latar belakang tindakan kudeta milter turki tersebut adalah sedikit
memiliki nilai kebenaran yang bisa dipercaya, walaupun terdapat diantaranya ada
nya informasi yang melatar-belakangi tindakan kudeta militer tersebut
disebabkan karena provokasi yang dilakukan negara barat untuk menimbulkan
konflik baru di daerah timur tengah, dan ada berita yang melatar-belakangi
kudeta militer dikarenakan tidak bagusnya kinerja kepemimpinan Presiden Tayyip
erdogan, sedangkan kita ketahui bahwa Erdogan dalam menjalani learning by doing
untuk meniti karier politik dalam sistem politik militer yg otoritarian nan
sekuler. Mereka sabar seperti menitih buih sampai akhirnya berhasil seperti
sekarang. Modal utama dari kalangan politisi Islam di Turki adalah menjaga
integritas dan kejujuran (sesuatu yang tak dimiliki oleh politisi muslim
Indonesia). Itulah yang menyebabkan politisi muslim seperti Erdogan ketika
terpilih sebagai walikota Istambul dulu sangat dicintai rakyat. Bekal ini yang
membawa karier politik Erdogan melesat. Militer perlahan-lahan terpinggirkan
secara politik. Kudeta militer tak akan laku pada rakyat Turki yang sudah mulai
mengenyam nikmatnya politik demokrasi seperti sekarang.
Dari
penjelasan diatas, maka apa solusi yang ditawarkan dari uaraian teori
strukturalisme ini ?
Kalau
seandainya kita hubungkan antara pemahaman pelopor teori strukturalisme ini
(Karl Max) dalam memberikan solusi untuk mengatasi permasalah agak sedikit
tidak berkesinambungan dengan kondisi saat sekarang ini. Karena di masa dahulu karl
max menawarkan opsi dalam mengatasi masalah yang menyangkut permasalahan antara
kaum pemilik modal dan kaum buruh. Namun yang namanya paham, asumsi, konsep,
serta teori itu tidak hanya bejumlah sedikit, sangat banyak pengajaran yang ditawarkan
melalui teori seperti halnya teori strukturalisme ini dalam mengatasi masalah.
Misal, seperti gagasan Karl max dalam mengatasi masalah jika idiologi kapitalis
masa itu tidak bisa menciptakan kesejahteraan maka digantikan dengan idiologi
sosialisme. Dalam idiologi sosialisme membatasi hak kekuasaan seseorang dan
menerapkan nilai keadilan dan kesetaraan demi mencapai kesejahteraan. Jika
dikaitkan dengan peristiwa kudeta militer yang terjadi di turki, yang latar
belakang penyebabnya adalah adanya selisih paham perbedaan idiologi, antara
presiden Sayyip erdogan beseta pengikutnya yang menganut idiologi ikhwanul
muslimin sedangkan militer dan aparatur negara menganut idiologi skularisme
(idiologi yang tidak terikat pada agama dan kepercayaan). Jika terus dibiarkan
tanpa ada solusi pemersatu, maka konflik dan ketidaksinambungan akan terus
terjadi. Dan solusi nya adalah, dengan menggunakan idiologi sosialisme sepeti
yang ditawarkan karl max dalam mengatasi masalah, karena dalam idiologi ini
menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kesetaraan untuk mencapai
kesejaheraan, dan dengan idiologi ini menawarkan opsi bahwa walaupun dalam
hidup bernegara terdapat perbedaan keyakinan dan kepercayaan itu bukanlah suatu
permasalahan untuk memicu terjadinya perpecahan, hal itu akan terjadi jika satu
sama lain tidak mengatur dan membatasi gerakan apa yang menjadi keyakinan bagi
mereka.
Tidak
mengatur dan membatasi gerakan untuk ritual kepercayaan mereka, bukan berarti
seseorang atau kelompok dengan semena-mena bisa melakukan tindakan yang radikal
atau tidak berintegrasi (melanggar aturan), tapi hal ini mencakup seperti dalam
uraian “Lakum Dinukum Waliyadin yang merupakan ayat ke-6 dari surat Al
Kafiiruun yang terjemahannya adalah: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.
Jika terjadi nya kudeta milter di turki disebabkan pemasalahan perbedaan
idiologi, kepercayaan, dan agama. Maka idiologi sosialisme sangat cocok
diterpkan dengan landasan dari Lakum Dinukum Waliyadin “Agamamu untukmu,
agamaku untukku”.
KESIMPULAN
Dari
teori structural konflik Marx sangat sinkron sekali teorinya dengan kondisi
yang terjadi pad hari ini, adanya kesenjangan social antara dua kelas yang
berhadap muka dalam kondisi yang tidak terdamaikan ditengah masyarakat hari ini
yaitu antara kelompok skularisme (Militer dan aparatur negara) dengan kelompok
Ikhwanul Muslimin (Presiden Sayyip Erdogan dan pengikut). Menawarkan idiologi
sosialisme sebagai opsi untuk menanggulangi masalah yang terjadi.
Dengan Idiologi sosialisme diharapkan mampu menyatukan
kembali antara kelompok yang tidak berkesinambungan, agar dalam kehidupan bangsa
dan bernegara hidup dengan tentram, aman dan sejahterah.
Memang manusia tidak akan pernah terlepas dari
yang namanya konflik, silih berganti masalah itu akan selalu datang. Selesai satu
urusan maka akan datang beribu uusan yang lain. Memang inilah jalan takdir sebagai
manusia, namun dengan kesempurnaan yang diberikan oleh sang-pencipta mampu menciptakan
keteguhan bagi diri kita dalam menanggulangi dan mengatasi setiap permasalahan tersebut.
Walaupun kita mencoba menghindari dengan yang
namanya konflikm namun konflik tersebut akan tetap datang , mendekat, dan menghampiri.
Tetapi ada cara beban itu tidak menjadi sesuatu yang memberatkan diri kita, yaitu
menanamkan sikap saling mengerti, memehami, dan memafkan satu sama lain, Insyaallah
hidup akan damai.
DAFTAR
PUSTAKA
Amin,
S. (1947), Accumulation on a World Scale
: A Critique of the Theory of Underdevelopment (2 Vols), London: Monthly
Review Press.
Amin,
S. (1990), Maldevelopment: Anatomy of a
Global Failure, London: Zed Books.
Baran,
P.(1957), The Political Economy of
Growth, New York: Monthly Review Press.
Cardoso,
F. Dan Faletto, E (1979), Depedency and
Development in Latin America, Bakeley: University of callifornia Press.
Chase-Dunn,
C. (1989), Global Formation: Structures
of the World Economy, Oxford: Blackwells.
Frank,
A. G. (1971), Depedent Accumulation and underdevelopment, New
York: Monthly Review Press
Galtung,
J. (1971), A Structural Theory of
Imprealisme, The Journal of Peace Research, Vol. 8, No. 1 hlm. 81-117.
George,
S (1994), A Fate Worse Than Debt,
London: Penguin
Harris,
N. (1990), The End of the Third World,
London: Penguin
Kamrava,
M. (1993), Politics and society in the
Third World, London : Routledge
Kolko, J (1998), Restructuring the World E
No comments:
Post a Comment